 Pengisi Acara Berfoto Bersama
Keberhasilan seseorang dalam menjalani hidup, ternyata tidak terlepas dari peran dan pengaruh sosok ibu.
Kehadiran sang ibu diyakini mampu memberi inspirasi, dan energi positif, yang membuat sang anak akhirnya mampu berbuat maksimal dalam hidupnya.
Demikianlah pemikiran dan pengalaman yang terungkap dalam obrolan yang digelar @inmarkdigital dan @obsat, dalam memperingati Hari Ibu, Kamis (22/12) lalu.
Obrolan ini menghadirkan Wakil Ketua DPR Pramono Anung, Pemimpin Redaksi ANTV @unilubis, Pemimpin Redaksi AyahBunda @TenikHartono, serta @yeniniye dari Sari Husada.
Pembicara lain yang juga membagikan pengalamannya adalah @FahiraIdris,
@rshanti Metro TV, @VenturaE dari Inmark Digital, serta @meutya_hafid anggota DPR. Tampil pula sebagai pembicara adalah @sophia_hage dari komunitas @selamatkanibu dan @dr7ack dari IBU Foundation, dua organisasi atau komunitas yang peduli pada kesehatan, terutama kesehatan ibu.
Acara ini dipandu oleh moderator @Badutromantis dan @Ray_Nia, juga dimeriahkan oleh permainan biola oleh @fakhribpratama dan Nisa yang menyanyikan lagu ‘Bunda’.
Dalam obrolan itu, semua pembicara mengungkapkan pengalaman berinteraksi dengan ibunya masing-masing, yang sebagian besar kemudian menyimpulkan peran ibu sangat mempengaruhi perjalanan hidup mereka. Wakil Ketua DPR Pramono Anung, salah-satu pembicara dalam forum ini, mengatakan, perjalanan hidupnya lebih banyak dipengaruhi oleh kehadiran ibunya ketimbang ayahnya.
Pramono kemudian menjelaskan, ibunya lebih banyak memotivasinya agar terus menuntut ilmu, di tengah keterbatasan ekonomi keluarganya yang terbatas. Dorongan hidup dan motivasi yang kerap dimunculkan ibunya, membuat Pramono meyakini bahwa pilihan-pilihan yang sang ibu sering tepat.
Pramono mencontohkan pengalamannya mencari calon istri yang disebutnya tidak terlepas dari pengaruh sang ibu. “Jika saya tak menjalankan nasihatnya, tentu saya akan menikahi orang yang salah,” katanya, berterus-terang. Pengalaman seperti ini membuatnya semakin yakin kehadiran ibu sangat penting dalam hidupnya.
“Itulah sebabnya, saya selalu mendengarkan nasihat ibu saya, dalam membuat berbagai keputusan penting dalam hidup saya,” ungkap Pramono, berterus-terang.
Begitu kuatnya energi positif sosok ibu dalam perjalanan hidup politisi PDI Perjuangan ini, membuatnya menyempatkan diri untuk selalu menelpon ibunya saban hari. “Mendengar suara ibu saya, membuat saya selalu terinspirasi,” akunya.
Menangis di Hadapan Ibu
Walaupun belakangan mengakui kehadiran ibunya begitu mewarnai hidupnya, Pemimpin Redaksi Majalah Ayah Bunda, Tenik Hartono mengaku awalnya selalu “memusuhi” ibunya. Di hadapan peserta obrolan itu, Tenik kemudian mengungkapkan pengalaman masa mudanya ketika “memberontak” terhadap segala aturan yang dibuat oleh sang ibu.
Suatu saat, ibunya begitu marah, ketika mendapati Tenik pulang larut malam dari diskotik.Ketika itu, usai percekcokan hebat, menurutnya, sang ibu melontarkan kalimat “ya, kalau nggak mau diatur, mending jangan pulang…”. Mendengar kalimat itu, Tenik makin menemukan pembenaran untuk terus memusuhi sang ibu.
Dalam situasi seperti itu, di masa mudanya, Tenik kemudian tidak pernah melibatkan sang ibu dalam beberapa fase penting hidupnya. “Ibu saya tidak tahu kapan saya mendapatkan haid yang pertama, atau ketika saya dihadapkan situasi ketika putus dengan pacar saya…”
Tetapi, lanjut Tenik, semua itu berubah draktis ketika dia menikah dan melahirkan anaknya yang pertama. Hubungan hambar dengan sang ibu, tiba-tiba runtuh, ketika dia merasa begitu putus asa mengurus sang bayi.
Saat itulah, ibunya tampil, dan memberikan pertolongan untuk memberi contoh memandikan bayi yang masih berumur beberapa hari itu. “Saat itulah, saya kemudian menangis… dan menyadari apa yang dilakukan ibunya selama ini benar,” akunya, tanpa tedeng aling-aling.
Dia lantas membayangkan, betapa ibunya rela tidak tidur semalaman, menunggu dia pulang setelah menghabiskan malam di ruangan diskotik.
Pilihan menjadi Ibu
Obrolan malam itu semakin semarak, ketika pembicara lainnya juga mengungkapkan pengalamannya. @VenturaE dari Inmark Digital menyatakan menjadi Ibu adalah karunia terindah dari Tuhan.
Sementara @unilubis menambahkan “Menjadi Ibu atau tidak menjadi Ibu, adalah sebuah pilihan. Jadi harus dihargai. Jika memilih untuk menjadi ibu, jadilah ibu yang baik.”
Adapun @Rshanti menegaskan sebaiknya ibu juga mandiri, tidak hanya mengandalkan suami.
Mengenai cara menyenangkan dan membalas jasa ibu, @fahiraidris mengatakan bahwa jika kita belum bisa menyenangkan beliau dengan materi, perhatian dan kehadiran kita, anak-anaknya, sudah lebih dari cukup.
@pramonoanung menambahkan beliau menelpon ibunya yang tinggal di Kediri setidaknya dua kali dalam sehari. “Suara ibu, adalah energi bagi saya,” katanya.
Dr. Ridwan “Jack” Gustiana (@dr7ack) dari IBU Foundation berpendapat bahwa ibu adalah pembawa perubahan, sehingga apapun kegiatan-kegiatan positif ibu harus didukung.
Sementara @sophia_hage dari @selamatkanibu menyoroti kurangnya perhatian terhadap kesehatan ibu dan calon ibu. “Saat ini,” jelasnya “Tingkat kematian ibu di Indonesia adalah yang paling tinggi se-Asia Tenggara, dengan penyumbang terbesar berasal dari daerah Jawa Barat”.
Kemajuan teknologi dan era digital merupakan salah satu tantangan bagi ibu dalam mendampingi dan mendidik anak. @yeniniye menyetujui hal ini, “Tantangan menjadi ibu di era digital saat ini adalah sulitnya membendung arus informasi.” katanya.
Suasana berbagi menjadi sedikit mengharubiru ketika seorang polisi yang kebetulan hadir, ikut menceritakan pengalamannya. Ditinggal sang ibu untuk selamanya ketika dia sedang dalam masa karantina di sekolah kepolisian, dan dia baru diberitahu oleh keluarganya beberapa bulan kemudian, setelah masa karantinanya berakhir.
“Ayah saya berkata sengaja tidak memberitahu saya pada saat kejadian, karena takut saya akan meninggalkan karantina, sehingga saya gagal menjadi polisi, cita-cita saya sejak dulu,” ungkap pak polisi.
Di penghujung acara, para narasumber bersepakat untuk memberikan donasi pada IBU Foundation, sebuah organisasi volunteer yang bergerak meningkatkan pengetahuan, kesejahteraan dan kesehatan ibu, terutama di daerah-daerah rawan bencana dan terpencil. (Ika Ardina)
|